Biografi Seorang Max Sum


 

MLM, Masa Lalu Ma’sum 
   Hai ! Aku Rifki Akhmad Ma’sum, keluarga memanggilku rifki. Temen SMA sampai temen kuliah memanggil aku maksum, temen SD sampai SMP plus temen main di kampung memanggil aku pak haji J . Ya, aku juga ngak tau kok bisa seorang anak sd yang masih berumur 10 tahunan sudah dipanggil Pak haji, entah mungkin temen temen ku sudah bisa melihat bakat terpendamku menjadi seorang haji atau karena mukaku yang boros J. Yang jelas aku tak pernah mencoba mengganti julukan itu dan justru sebaliknya, aku menganggap itu sebagai doa yang selalu aku Aamiin kan.
Tinggal di pinggiran Kota Yogyakarta atau lebih dikenal dengan daerah Bantul , aku lahir dari keluarga sederhana. Bapak(Muhyidin) adalah seorang PNS Kesehatan di Daerah Yogyakarta dan Ibu(Wiji Nuryati) hanya seorang ibu rumah tangga yang sesekali membantu perekonomian bapak dengan berjualan kue atau mengajar di Taman kanak kanak. Dirumah aku biasa memanggil mereka berdua dengan sebutan Abah dan Umi. Disamping bekerja sebagai pelayan kesehatan di puskesmas, bapak juga merupakan salah satu penceramah yang biasa mengisi pengajian di kampung kampung (mungkin itu juga salah satu sebab aku di panggil pak haji). Oiya, aku juga punya seorang adik yang bernama Afif Sulkhan Hakim. Selisih umur kami hanya satu setengah tahun. Kalau kata bapak dulu emang sengaja, biar nanti ada temen mainnya J. Padahal kenyataannya temen ribut rebutan mainan.
Karena bapak mempunyai basic agama , kami berdua tumbuh dalam didikan agama yang lumayan kuat. Dari umur 5 tahun kita sudah dilatih untuk shalat berjamaah di masjid. Umur 7 tahun kalau tidak shalat di masjid pasti sampai rumah langsung dimarahin umi. Disamping itu,banyaknya uang jajan kami juga tergantung dari shalat jamaah di masjid. Pokoknya karena kami berdua laki laki, abah selalu membiasakan kami untuk selalu shalat di masjid. Umi juga sama, jika waktu shalat sudah tiba tapi kami belum ada dirumah, pasti Umi langsung keliling kampung nyari kami berdua. Kita yang lagi asik main kelereng kadang juga merasa malu dan marah kalau disuruh pulang (namanya juga anak anak, inginnya main terus).
   Tak hanya menyangkut agama, abah juga mendorong kita untuk berprestasi di sekolahan. Biasanya seminggu sebelum ujian abah selalu melarang kami untuk main. Tapi abah juga janji jika nilai kami bagus, apalagi dapat rangking, maka kami akan di beri hadiah. Ya Alhamdulillah karena motivasi tersebut yang membuat aku, dari SD sampai SMA bisa mendapat rangking terus. Berbeda dengan adik yang memang lumayan nakal dan bandel. Makanya sampai sekarang sudut pandang kami agak berbeda, kalau adik cenderung ingin langsung kerja (jadi masuk SMK) kalau aku cenderung ingin kuliah (jadi masuk SMA).
 
Mind Set seorang Max Sum
   Sejak kecil kami dididik untuk disiplin, hemat,rajin, dan taat kepada orang tua. Mungkin karena latar belakang abah yang seorang PNS jadi keingin anaknya kelak juga mendapat penghasilan yang mencukupi atau kalau bisa lebih baik dari orang tuanya. Mungkin itu juga yang membuat aku kurang begitu tertarik atau berani terjun di dunia usaha. Pernah (ketika sudah bekerja) mencoba menyampaikan niat untuk mencoba membuka usaha, tapi abah pasti seolah menahan atau memberi masukan untuk disimpan saja uangnya buat modal nikah, bangun rumah atau buat persiapan kalau lanjut kuliah. Ya berhubung ridho ALLAH ada di ridhonya orang tua, ya sebagai anak nurut saja J takut usahanya ngak berkah kalau orang tua sudah ngak setuju.
   Alhasil dengan didikan tersebut aku tumbuh menjadi pribadi yang kalau orang bilang sih, “ngak neko-neko”. Pagi sekolah, siang pulang, lanjut tidur siang, sore main sebentar, malam pulang, habis magrib ngaji, habis isya belajar, kemudian tidur. hampir tidak ada yang spesial dari masa kecilku. Mungkin nilai bagus dan rangking kelaslah yang menjadi kebanggaanku waktu itu. Sampai pada akhirnya tiba ke masa kelulusan SMA. Dari semenjak kelas 1 SMA, abah selalu berharap supaya aku bisa masuk STAN. Harapan tersebut mulai muncul lantaran cerita dari salah seorang keponakan yang merupakan lulusan STAN dan waktu itu sudah bekerja di Direktorat Jenderal Pajak. Namun meskipun demikian karena waktu itu pendaftaran STAN baru dibuka setelah seleksi perguruan tinggi yang lain, ya akhirnya abah menyuruh untuk ikut seleksi di Universitas Negeri dulu sambil nunggu pendaftarannya buka. 

1% Usaha, 99% Doa Orang Tua.
   Qodarullah, aku (yang masuk daftar 3 besar dilulusan SMA) dua kali gagal lolos di seleksi masuk Universitas Negeri.  Padahal teman teman SMA yang lain sudah banyak ketrima di berbagai macam Perguruan Tinggi. Dan pada akhirnya melalui seleksi mandiri, masuklah aku di Jurusan Pendidikan Tekhnik Informatika Universitas Negeri Yogyakarta dengan membayar biaya pembangunan yang lumayan mahal. Akhirnya aku mencoba menikmati dunia perkuliahan yang katanya berbeda dengan masa sekolah dulu. Pada awalnya aku masuk jurusan ini, disamping karena aku lumayan tertarik dengan Komputer, juga karena masukan dari abah bahwa orang yang bisa komputer bakalan banyak dibutuhkan di masa depan apalagi perkantoran. Dan setelah tiga bulan belalu, aku mulai menemukan keasikan di jurusan ini dan secara tidak sadar aku mulai melupakan keinginan aku untuk masuk ke STAN.
   Namun karena keinginan orang tua agar aku bisa masuk STAN sangat tinggi, maka aku dengan setengah hati mengikuti seleksi USM. Disela sela kesibukan kuliah, aku meluangkan waktu untuk sedikit belajar latihan soal TPA dan Bahasa Inggris. Tiap malam umi juga selalu membangunkan untuk tahajud bersama. Sampai singkatnya keluar pengumuman bahwa aku lolos seleksi USM dan harus menjalani pendidikan di Manado (kota yang baru aku ketahui setelah melihat peta). Padahal sebelum pengumuman keluar, aku sempat tidak yakin bakalan lolos. Ketika tes tertulis, hampir separuh lebih soal Bahasa Inggris ku kerjakan dengan bermodal doa J. Di titik inilah akhirnya aku mulai menyadari bahwa semua prestasi,kesuksesan,dan keberhasilan yang terjadi di kehidupanku ini: 1% Usaha, 99% Doa Orang Tua. 

A year in Manado
   Tak terbayangkan sebelumnya untuk naik pesawat, hidup sendiri, dan jauh dari orang tua. Namun setelah sampai di manado aku mulai menemukan hal baru. Aku juga baru mengetahui ternyata sudah banyak orang jawa yang merantau dan tinggal di daerah sini. Ya kalau ketemu dengan orang jawa rasanya sudah seperti daerah sendiri saja J. Setahun di Manado mengajarkan aku banyak hal, mulai dari hidup mandiri, budaya baru, menghormati kepercayaan orang lain (maklum baru disinilah aku merasakan muslim sebagai minoritas), berbaur dengan masyarakat sekitar, dan menyadarkan aku bahwa Indonesia itu luas dan indah (kalau yang sudah pernah ke daerah timur pasti tau). 2012 selesailah petualanganku di Kota Manado ini (pikirku dulu ketika sudah lulus). Saatnya pulang menikmati waktu berkumpul dengan keluarga sebelum nantinya bakal di tempatkan di seluruh Indonesia. Tapi jujur perpisahan dengan teman seperjuangan di Manado terasa berbeda dengan perpisahan ketika jaman Sekolah. Mungkin karena ketika jaman sekolah cenderung lebih banyak mainnya ya, sedangkan disini kita sama sama berjuang untuk hidup jauh dari keluarga, saling membantu, belajar bersama dan akhirnya bisa lulus sama sama juga.

Lulusan STAN, kok nganggur
   Setelah lulus kuliah,aku benar benar memanfaatkan family time dirumah. Namun setelah berbulan bulan menjadi pengangguran, dan waktu penempatan yang belum jelas, aku mencoba untuk terjun ke dunia kerja. Dimulai dari menjadi penjaga warnet (lumayan bisa online gratis J), ya kalau dari segi pendapatan sih tidak begitu banyak, tapi setidaknya aku tidak lagi minta uang jajan ke orang tua lagi. Kurang lebih sekitar 2 atau 3 bulan setelah lumayan mendapat pengalaman aku memutuskan untuk keluar. Disamping karena sudah mulai jenuh, saat itu juga sudah hampir memasuki bulan ramadhan. Jadi abah juga manyarankan untuk berhenti saja, agar tidak mengganggu ibadahnya.
Sampai tiba ajakan dari salah seorang teman untuk magang mandiri di salah satu kantor pajak di Yogyakarta. Jadi disini kita menawarkan diri untuk bekerja tanpa bayaran (dari pada dirumah dikatain tetangga, “katanya lulusan STAN langsung kerja, kok malah nganggur dirumah J”). Lagi pula kantornya juga searah dengan kantor abah, jadi itung itung menemani abah pulang pergi kerja. Di kantor inilah aku menemukan gambaran tentang apa yang akan aku kerjakan besok ketika sudah penempatan. Mulai dari membantu wajib pajak mengisikan spt, membuatkan tanda terima, menginput di sistem, sampai menjalin hubungan baik dengan para pegawai. Kurang lebih 4 bulan menjalani rutinitas ini, aku dan temanku memutuskan untuk berhenti dan keluar. Disamping karena kabar pengangkatan sudah semakin dekat, kami rasa 4 bulan sudah cukup untuk bekal kita sebelum memasuki dunia kerja.

Dunia Kerja? Ashiapp !!
   Penantianku akhirnya terkabul juga. Oktober 2013 usai sudah masa menganggur aku dengan keluarnya pengumuman pengangkatan untuk magang resmi (kalau ini sudah dibayar J)di Kanwil DJP Yogyakarta. Meskipun pernah magang sebelumnya, tapi proses kerja dikanwil agak sedikit berbeda dengan di KPP. Bekerja disini lebih banyak berinteraksi dengan para pegawai dari pada dengan wajib pajak. Di kanwil inilah aku mulai mempelajari proses bisnis, sistem informasi, pengolahan data dan bagaimana kita mencari data dari pihak ketiga. Banyak ilmu, nasihat dan pengalaman kerja dari para pegawai yang kami dapat untuk bekal kita sebelum melangkah ke tempat kerja kita nanti. Dan akhirnya april 2014, tepat di hari jumat malam (orang bilang jumat keramat), dengan hati yang berdebar J, satu lagi daerah baru akan tertulis di catatan pejalanan hidupku, “TERNATE”.
   Ya meskipun lebih jauh dari manado tapi pengumuman kali ini tidak begitu mengagetkan buat kami sekeluarga (tapi tetep langsung buka petaJ). Ya wajarlah, dulu yang masih pendidikan jauh dari orang tua saja bisa, apalagi sekarang sudah mulai pegang duit J. Beruntungnya aku tidak sendirian pergi kesana, ada Faisal teman magang di Kanwil yang juga akan menjadi teman kantorku di Ternate.
Kota baru,masyarakat baru,kuliner baru, budaya baru,dan tentunya pemandangan baru. Itulah yang aku rasakan ketika mulai menginjakan kaki di kota ini. Berbeda dengan manado, disini islam adalah mayoritas, Jadi tidak jarang banyak tradisi, adat atau festival kebudayaan yang menampilkan nilai nilai keislaman. Disamping itu kota ini juga menawarkan banyak  pemandangan laut yang sangat indah. Hanya butuh waktu kurang dari dua jam untuk mengelilingi pulau ini dan disepanjang jalan kita disuguhi oleh pemandangan laut dan pantai yang indah.
   Oiya KPP Ternate memiliki 3 kantor pembantu yaitu KP2KP Tidore di Pulau Tidore (10 menit perjalanan laut), KP2KP Labuha di Pulau Bacan (8 jam perjalanan laut) dan KP2KP Sanana di Kepulauan Sula (16 Jam perjalanan laut). Aku hanya seminggu bekerja di KPP Pratama Ternate. Karena kebutuhan kantor, maka aku dan Fery (teman kuliah di Manado juga) di tugaskan untuk bekerja di KP2KP Tidore. Berbeda dengan Ternate, meskipun lebih luas, Kota Tidore cenderung lebih sepi dan kurang berkembang. Aku ingat betul awal awal aku di Tidore, hampir setiap hari ada pemadaman listrik. Kondisi kantor saat itu juga masih jauh dari standart kantor pelayanan. Itulah kenapa angkatan kami di tugaskan untuk membenahi KP2KP. Disinilah aku mulai belajar tentang dunia perkantoran yang tidak aku dapat ketika magang di kantor sebelumnya.
Empat Tahun lebih aku bekerja di kantor ini. banyak pengalaman dan pelajaran yang aku dapat. Bukan hanya dalam dunia kerja, tapi juga dalam hal bermasyarakat, berorganisasi  dan juga ilmu hidup (kalau kata kepala kp2kp keduaku). Kantor juga sekarang sudah sangat berbeda dengan yang dulu. Bahkan sekarang anak anak baru malah berebut ingin ditempatkan di kp2kp J. Tidak hanya itu, KP2KP Tidore juga sudah memperoleh beberapa penghargaan baik di lingkup Kanwil (KP2KP inovativ 2018, Juara 2 Buku Profil Terbaik 2018,dan Video Profil Terbaik 2019) maupun Nasional (Admin Medsos Terbaik 2018). Sekarang wajib pajak yang datang ke kantor sudah tidak bisa dihitung dengan jari lagi (kalau ditambah jari kaki mungkin bisa J). 

“Mukjzat” itu kembali terjadi
   Selama empat tahun bekerja, aku selalu berharap bisa lanjut kuliah lagi di DIII STAN. Abah dan umi juga sangat berharap aku bisa ketrima tugas belajar setidaknya ada kemungkinan penempatan ulang di Jawa. Kebetulan juga umurku yang tergolong muda, aku punya kesempatan untuk 3 kali ikut tes. Tes pertama dan kedua berakhir dengan kurang memuaskan. Perjuangan ketigaku di tahun 2018 juga harus berakhir di Psikotes. Namun aku selalu yakin Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hambanya.
   Oiya di tahun 2018 juga lah akhirnya aku sah menjadi seorang suami J(Yah itung itung sebagai pelipur lara gagal lanjut D III). Saat itu karena belum cari cari kontrakan, istri belum langsung aku ajak ke Tidore. Sampai pada awal tahun 2019 ada pengumuman pendaftaran D III tapi khusus untuk fungsional penilai. Mendengar cerita cerita dari fungsional senior yang penempatannya kebanyakan diluar Jawa, Akupun mencoba mengikuti tes(walaupun dengan setengah hati). Tes kali ini hampir sama sekali tidak ada persiapan, berbeda dengan tes tes sebelumnya yang belajar jauh jauh hari sebelum tes. Karena pada awalnya niatku mengikuti tes hanya untuk mendapatkan Surat Tugas dan aku bisa pulang untuk bertemu keluarga dan setelah tes langsung membawa istri ke Ternate. Tapi meskipun dengan persiapan yang minim, aku tetap mengerjakan dengan semaksimal mungkin. Qodarullah, dengan perasaan yang campur aduk aku membaca namaku ada di dalam daftar pegawai yang lolos. Dan saat itu aku teringat lagi akan peristiwa awal ketrima masuk STAN. “ini semua adalah 99,99% doanya orang tua”.
   Dari sebelum bekerja abah selalu mengajarkan bahwa kita sekeluarga seperti satu tim sepak bola. Apapun tujuan atau impian salah satu dari kita, akan didoakan oleh semua anggota keluarga. Aku pun ingat betul dulu sebelum aku ketrima di STAN, abah dan umi juga selalu bangun tahajud dan mendoakan agar aku bisa lolos tes. Dan inilah yang memantapkanku saat ini untuk terus melanjutkan kuliah di DIII Penilai Alih Progam ini.
    Entah bagaimana nasib penempatanku setelah lulus nanti. Entah berapa banyak lagi pulau baru yang akan aku datangi. Entah bagaimana karier pekerjaanku nanti. Aku sudah tidak terlalu memikirkannya lagi. Yang jelas semua sudah di takdirkan. walaupun terkadang semua tidak selalu seperti yang kita harapkan. Namun aku yakin Allah pasti memberikan yang terbaik bagi hambanya. 





Komentar